Remaja Sering Umbar Foto Mesra di Medsos? Ini Kata Psikolog..


Di era sekarang pekembangan teknologi sangat berpengaruh besar pada kehidupan. Media sosial merupakan salah satu yang paling digandrungi masyarakat, tidak hanya di Indonesia bahkan negara lain pun amat menyukainya.

Para remaja merupakan pengguna terbanyak akun media sosial contohnya Instagram. Mereka mengupload berbagai foto untuk mengabadikan momen-momen tertentu, entah dengan pasangan ataupun kerabat mereka.

Akan tetapi, beberapa dari para remaja ada yang mengunggah foto mesra bersama kekasihnya, bahkan foto tersebut terbilang sangat intim. Artian kata intim disini seperti duduk berpangkuan, berciuman bahkan berpelukan.

Karin Novilda merupakan salah satu remaja yang kerap mengunggah foto mesranya bersama pasangan atau mantan kekasihnya di Instagram. Akunnya @awkarin memiliki 680.000 followers yang kebanyakan merupakan remaja seusianya. Lalu bagaimana pendapat para psikologi terhadap fenomena ini?

Menurut salah satu Psikolog yakni Ajeng Raviando, para remaja membutuhkan pengakuan serta perhatian dari orang lain disekelilingnya. Lewat media sosial salah satunya Instagram, mereka akan mengupload foto-foto yang bagus agar membuat banyak orang tertarik. Konsep hidup mereka seolah mengantungkan kebahagiaan sesuai komentar orang lain.

"Awkarin salah satu selebgram dan ia juga menerima endorse juga. Jadi, konsep pemikirannya adalah bagaimana cara agar orang lain menarik untuk melihat akun instagramnya, cara yang ia pilih salah satunya mengekspose foto kemesraan dengan pasangannya", ungkap Ajeng.

Jika memang ada tujuan yang bersangkutan dengan endorse, maka ini berbeda dengan para remaja yang sengaja mengupload foto kemesraannya hanya untuk mendapat perhatian. Dulu di media sosial sejuta umat seperti Facebook para remaja seolah tidak malu dan cenderung bebas mengunggah berbagai foto mesra dengan kekasihnya. Pada akhirnya membuat para orang mulai jenuh melihat foto-foto mesra mereka.

Ajeng Raviando mengatakan,"Orang-orang akan mencapai pada titik jenuhnya, dan tidak nyaman dengan postingan yang terkesan tidak senonoh itu. Apa sih yang sebenarnya ingin diraih? Untuk yang mengupload pasti mereka cari perhatian. Pada akhirnya hanya akan menambah haters bagi yang tidak suka, dan lovers menjadi semakin banyak nge-like."

Salah satu hal yang diinginkan para remaja adalah sebuah pengakuan. Mereka berdandan lebih agar terlihat kesan dewasa yang sebenarnya jauh beda dengan umurnya.

"Mengapa para remaja berdandan seolah lebih tua dari pada umurnya? Ya, karena mereka perlu pengakuan. Mereka ingin terlihat dewasa namun lupa bahwa menjadi dewasa merupakan suatu proses. Cara berpikir mereka masih belum mencapai tahap dewasa. Jadi, mereka cenderung hanya mengikuti tren yang ada", ungkap Psikolog Elizabeth.

Ketika usia remajalah anak-anak mulai mencari jati diri mereka. Hal-hal yang baru aktif mereka coba termasuk mengumbar kemesraan bersama pasangan dan mengunggahnya ke sosial media. Mereka belum mampu berpikir panjang sehingga sangat mudah untuk terjerumus pada hal-hal yang  tak seharusnya.

Contohnya saja remaja yang tattoan. Ketika remaja mereka berpikir bahwa tattoan itu keren, akan tetapi bagaimana jika kelak mereka akan menikah dan calon mertuanya tidak merestui? Mereka cenderung berpikir pendek, pada akhirnya implusif sehingga tidak terkontrol dan rentan melakukan berbagai kesalahan yang kelak akan mereka sesali. Jum'at(5/8).



Share on Google Plus

About Pesan Dunia

0 komentar:

Post a Comment