Sejarah Baru, Kolombia Sepakat Berdamai Dengan FARC


Perjanjian damai antara pihak pemerintahan Kolombia dengan Angkatan Bersenjata Revolusoner Kolombia (Forças Armadas Revolucionárias da Colômbia) (FARC) pada senin lalu telah ditandatangini kedua oleh kedua belah pihak. Perjanjian bersejarah ini di klaim untuk mengakhiri konflik yang telah terjadi setengah abad lamanya dan telah menghilangkan ratusan ribu nyawa.

Pada sebuah upacara di Kota Cartegana kedua pimpinan dari masing - pihak hadir untuk menandatangani kesepakatan tersebut. Juan Manuel Santos presiden Kolombia Kolombian dan Timilein Timochenko Jimenez dari pimpinan FARC ini disambut sorak sorai di acara itu termasuk sejumlah pejabat pemerintah yang hadir.

Meskipun mengalami proses 4 tahun, rencananya setelah satu pekan setelah penandatangan resmi tersebut masih harus disahkan dalam referendum.

Dikutip dari kicauan Presiden Juan di Twitter, Juan mengatakan, "Hari ini kita merasakan kebahagiaan fajar baru untuk Kolombia". 

Acara yang berlangsung kurang lebih 70 menit itu dihadiri sekitar 2500 undangan. Uniknya, dalam penandantagan kesepakatan, kedua pemimpin menggunakan pena yang terbuat dari bahan peluru asli. 

Dalam acara tersebut, turut hadir Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon serta menteri Luar negeri Amerika Serkat Jonh Kerry, Sekretaris Negara Vatican Pietro Parolin, dan sejumlah pemimpin Amerika Latin termasuk Presiden Kuba Raul Castro.

Tercoret dari daftar hitam

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini memutuskan untuk mencabut FARC dari daftar kelompok teroris. Penangguhan akan memungkinkan pencabutan terhadap sanksi-sanksi terkait keberadaan FARC dalam daftar tersebut.

Pasukan pemberontak terbesar Tentara Pembebasan Nasional (ELN) telah sepakat juga untuk menahan tembakan menjelang referendum. Namun, pemerintah belum merencanakan perundingan damai dengan ELN, karena kelompok tersebut diminta untuk menghentikan penculikan.


Konflik mematikan

Tentara gerilya umum di seluruh Amerika Latin pada paruh terakhir Abad XX. Namun sekarang, 25 tahun setelah Perang Dingin, Kolombia adalah tempat konflik bersenjata terbesar di Amerika.

FARC, kelompok gerilya Marxis, melancarkan perang terhadap pemerintah Kolombia tahun 1964 sebagai buntut dari pemberontakan petani yang ditumpas tentara.

Otoritas Kolombia memperkirakan konflik telah menewaskan 260.000 orang, dan menyebabkan 45.000 orang hilang.

Di bawah kesepakatan dengan pemerintah, FARC sekarang membentuk partai politik dan Timochenko (57) diperkirakan tetap menjadi pemimpinnya.

Nama aslinya Rodrigo Londono tapi dia lebih dikenal dengan nama aliasnya, Timoleon Jimenez dan "Timochenko."

"Perang sudah berakhir," tulis dia di Twitter. "Kita semua akan membangun perdamaian."

Di kamp yang ada di pedalaman hutan El Diamante, bagian barat Kolombia, petempur FARC David Preciado merayakan kesepakatan itu dengan main bola bersama kawan-kawannya.

"Pemerintah tidak mengalahkan kami, dan kami tidak mengalahkan mereka. Perang 52 tahun kami tidak sia-sia," katanya kepada kantor berita AFP.

"Kami menyadari bahwa kami maju bersama, bersatu... untu akhirnya mencapai kemenangan, memberi kekuatan kepada rakyat dengan alat-alat politik."


Referendum 

Dikutip dari Antara, para pemberontak bersedia berunding dengan pemerintah setelah dilemahkan oleh serangan tentara pimpinan Santos ketika dia menjadi menteri pertahanan. Setelah Santos menjadi presiden, pembicaraan empat tahun yang dituanrumahi oleh Kuba mencapai hasil final berupa perjanjian dengan 297 halaman pada bulan lalu.

Perjanjian itu memberikan amnesti bagi "kejahatan-kejahatan politik" yang terjadi selama konflik. Namun, perjanjian tersebut tidak berlaku untuk tindak kejahatan terburuk seperti pembunuhan, penyiksaan bahkan pemerkosaan.

Sekitar 7000 lebih anggota FARC akan meninggalkan tempat-tempat persembunyian di hutan dan pegunungan dan dilucuti senjatanya. Proses ini akan diawasi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Meskipun demikian, sebagian warga Kolombia membenci konsesi yang dibuat dengan FARC. Bahkan Mantan presiden Alvaro Uribe memimpin demosntrasi untuk memprotes penandatanganan kesepakatan tersebut.
Share on Google Plus

About Pesan Dunia

4 komentar:

  1. Ditunggu, artikel yang Filipina dunk. Bagus juga, ada Abu Sayaf nya hihihi

    ReplyDelete
  2. mudah-mudahan kedua belah pihak akan tetap akur

    ReplyDelete